Monday, 12 September 2011

Indonesia, mari belajar

Perih rasanya hati ini ketika melihat perjuangan 11 orang Indonesia di tengah lapangan Gelora Bung Karno Jakarta harus dihentikan karena masalah sepele.

Yah, itulah yang saya rasakan ketika mendengar bahwa pertandingan babak kualifikasi Piala Dunia 2014 - Zona Asia putaran III antara Indonesia vs. Bahrain harus dihentikan sementara gara2 ada kembang api dinyalakan di tengah pertandingan. Perasaan itu bercampur dengan rasa marah, sedih, dan prihatin terhadap negaraku tercinta. Kenapa tidak? Harapan 200 juta lebih penduduk Indonesia untuk melihat bendera Merah Putih dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan di Brazil hampir musnah oleh ulah segelintir manusia; walaupun memang kita tidak mengetahui apakah kita bisa lolos kualifikasi karena kita bukan langganan Piala Dunia. Tapi setidaknya, inilah harapan terbesar kita selama ini; kita berada di putaran ketiga Zona Asia.

Saya bisa mengerti bagaimana kekecewaan para supporter yang berada di lapangan dan menonton secara langsung pertandingan malam itu, karena saya menonton babak pertama melalui layar kaca. Level permainan para punggawa Indonesia tidak seperti biasanya, entah karena faktor fisik atau strategi yang salah; tapi hey, itulah namanya permainan, kadang kita bisa bermain bagus kadang kita bermain jelek, kadang kita menang kadang kita kalah. Kita bukan berada di dunia game dimana kita bisa seenaknya menyetir klub/negara kita untuk tidak pernah kalah. Negara-negara lainnya seperti Brazil, Belanda, Argentina, dan Jerman pun pernah merasakan kekalahan tapi mengapa kita tidak bisa menerima kekalahan timnas??

Euforia sepakbola memang seakan-akan telah memabukan kita semua. Kita merasa dengan masuk ke Final Piala Asia tahun lalu kita sudah bisa merajai Asia Tenggara; tapi ternyata tim kita kalah di final. Dengan lolosnya ke putaran ketiga babak kualifikasi Piala Dunia, kita merasa kita bisa dengan mulus melenggang ke putaran final Piala Dunia. Tapi ini kenyataan bung! Kita (mungkin) belum selevel sama negara-negara Asia Barat dan belum layak berada di Piala Dunia. Mari kita sadar dan dengan lapang dada menerima kenyataan tersebut.

Yang lebih prihatin lagi, mulai muncul nada-nada sumbang setelah pertandingan; terhadap pelatih, pemain, polisi, ketua umum PSSI bahkan Presiden. Yang saya heran, kenapa selalu kita mencari kambing hitam atas permasalahan yang ada. Kenapa tidak mencoba bersatu kembali untuk siap menghadapi tantangan selanjutnya. Tak dapat dipungkiri kalau beberapa dari mereka yang saya sebutkan di atas pernah membuat kesalahan yang keliru, tapi bukankah kita sama saja? Kita pernah membuat kesalahan dan ingat, tidak mudah untuk berada di posisi mereka saat ini.

Walaupun ini terdengar tidak patriorisme, saya sebenarnya mendukung dengan wacana pemberian sanksi terhadap PSSI dengan mengskors timnas dari laga internasional. Kenapa tidak? Karena dengan begitu, (mungkin saja) kita semua bisa belajar dari hukuman. Liatlah bagaimana sepakbola Inggris sekarang. Sejak di-skors beberapa tahun dari Liga Eropa gara-gara kasus kerusuhan Haysel, Liga Inggris sekarang telah menjadi salah satu liga terkemuka di Eropa dan menjadi liga sepakbola terdepan dalam hal keamanan. Bayangkan saja, dimana stadion-stadion Eropa lainnya punya jarak antara penonton dan garis lapangan, di Inggris penonton bisa duduk dengan jarak yang sangat dekat dengan lapangan.

Sepakbola telah menjadi alat untuk mempersatukan negara ini, karena itu marilah kita sama-sama membantu satu sama lain untuk membangun, satu, bangsa INDONESIA!
Bukankah kita sendiri yang akan merasa bangga, untuk mendengar lagu Indonesia Raya berkumandang di ajang internasional?



p.s.: Saya masih cinta Indonesia koq :)

No comments: